Emo sedang murung. Makan ga enak, minum ga enak, bahkan tidur juga kok rasanya ga enak.. padahal tidurnya di kasur air impor yang sejak dulu diimpi-impikan Abe. “Sedang ‘itu’ kali,” kata Smoky. “Itu apa?” tanya Abe. “Sedang ‘M’..”, jawab Smoky. “Em? Em apa?” tanya Abe. Smoky ga mau jawab dan ngeloyor pergi.. “Cape deh!”
“Don’t judge the book by its cover! Heran, kenapa baru sekarang aku percaya kata-kata itu benar!” kata Emo.
“Emang buku apa yang bikin kamu kecewa, Emo? Pasti isinya ga sebagus yang kamu pikir, ya? Aku juga pernah mengalaminya, kupikir ceritanya bakal bagus banget.. ternyata setelah dibeli trus dibaca isinya ga sesuai dengan covernya!” kata Abe. Bikin semua garuk-garuk kepala.
“Buku yang disukai banyak orang, covernya keren n glossy tapi ga lebih dari kamasutra versi roman picisan”, cetus Emo, ketawa ironis.
“Itu perumpamaan, buku itu ibarat orang. Orang ga selalu seperti yang kamu kira, gitu lo!” Rightey menjelaskan dengan sabar.
Emo mengangguk-angguk.
Dari balik notebooknya, Bentham berkomentar,”Dear Emo, sekarang saatnya kau sadar betapa salahnya dirimu. Aku bahkan berkali-kali lipat lebih baik dari idolamu itu, hahaha. Ya, maybe I’m not famous, but I got ‘something’ to give.. more than anyone can give. I’m a readable book, a good one with a good cover too.” Dia ketawa keras sampai semua orang jadi mengerutkan dahi. Berpikir O’o..
Emo mengabaikannya, “By the way, buku apa yang kamu beli, Abe?”
“Reaching the Stars karya A. Baker. Penerbitnya harus dikomplain karena berusaha menipu pembaca dengan cover sebagus itu. Itu sama sekali bukan novel fiksi ilmiah!”
“A. Baker? Haha, tentu saja ayahku tak akan pernah bisa menulis novel. Dia hanya menulis nasihat bisnis.”
“Jadi itu buku karangan ayahmu? Hmm, seharusnya aku sudah tahu dari inisialnya,” gumam Abe dengan menyesal.
“Oh, c’mon, Abe! Kau hanya rugi uang. Dear Emo sudah pasti mengalami lebih dari itu.” Bentham berpura-pura menyesal.
“Tidak ada yang meminta pendapatmu, Bent!” Emo melirik tajam.
Bentham tidak menyerah, “Kau tidak merasa dikhianati, my dear? Tidak ada shock? Sakit hati? Jengkel? Malu pada diri sendiri?”
Rightey menatap Bent dengan tatapan malaikatnya. “Ada apa denganmu, Bent?” tanyanya polos, membuat Bent sedikit malu.
“Bent pasti sedang senang sekarang, karena dia tidak pernah menyukai rock star dan para groupiesnya hehe,” Lefty menggeleng-gelengkan kepala.
“Secara psikologis, itu berasal dari rasa rendah dirinya,” sambung Newt.
“Atau akibat cinta bertepuk sebelah tangan.. hehe..,” bisik Hazel.
“Benarkah?” Lefty, Newt, dan Rightey menatap Hazel tak percaya.
Emo dan Bentham menatap curiga, “Apa yang kalian bicarakan?”
Abe menyambung, “Ya, aku sebenarnya tidak paham soal ‘buku’ ini..???”
“Kataku, Bent tidak menyukai rock star, bukan begitu Bent?” jawab Lefty, tanpa menunggu jawaban Bent ia berpaling ke Abe, “Kemana saja kau, nak. Tidak pernah lagi menonton TV? Ini bukan soal buku biasa, ini buku yang sangat terkenal. Kau tahu, seorang idola yang tercemar akibat perbuatannya sendiri. Seorang borjuis kecil dan gaya hidupnya yang hedonis namun menyalahi mitos norma kaum borjuis. Money, sex and videotape. Seperti judul film, tapi nyata.”
“Atau Love, sex and Rock n’ Roll. Slogan yang benar-benar dipraktekkan!” sambung Hazel dengan mata membesar.
“Aku tahu kasus itu,” kata Abe. “Buku yang banyak dibaca orang, ya?!”
Emo mendengus. “Lupakan soal buku itu. Lebih baik buku yang tak berguna dibuang saja ke tempat sampah. Masih banyak buku di toko buku, tapi aku tidak yakin lagi buku mana yang bermutu.”
“Kukira kau akan tetap setia mendukungnya secara moral, seperti pada kasus OJ..” kata Hazel.
“Atau Michael Jackson!”
“Masalahnya OJ Simpson dan Jacko kan saat itu masih tersangka belum ada bukti mereka bersalah. Kalo direkam video mungkin aku akan percaya.. ” Bent terkekeh.
“Mengapa tindakan yang tidak bermoral harus mendapat dukungan moral?” Rightey mengerutkan dahi sambil menatap Hazel tak percaya.
“Begini matematikanya, Rightey.. bilangan bulat Negatif moral harus ditambah bilangan bulat Positif moral supaya menghasilkan bilangan bulat moral yang nilainya positif,” sahut Hazel.
“Atau malahan menghasilkan nol”, Newt tertawa pada analogi yang diberikan Hazel.
“Contohnya, dukungan moral itu seperti apa? Apa kita harus bilang ‘SEMANGAT’ atau “CAIYO’???” tanya Abe.
Emo mengeluh sambil menggumam tak jelas.
“Kasih bunga dan puisi, hehe.. atau kasih coklat berbentuk hati,” cetus Bentham sarkastik.
“Kasihan, pasti beban moralnya tambah berat kalau kau bilang begitu. Dia akan turut menanggung dosa para penggemar juga..” keluh Rightey serius, sambil mengucapkan ampunan kepada Tuhan.
“Dukungan moral ya kita ga usah download videonya, ga usah nyebarin ke orang-orang!” seru Smoky yang baru masuk dari ruang sebelah.
“Aku tidak suka begituan” kata Abe.
“Berikan nasihat terbaik dan arahkan jalannya ke arah yang benar,” kata Rightey.
“Tengok dia di penjara, siapa tahu kau bisa berfoto bersama!” sahut Bent, ditujukan pada Emo.
“Huh, ada tidak dukungan moral buat ratusan mungkin ribuan orang tak bersalah yang dijebloskan di penjara. Atau dukungan moral buat para buruh migran yang hidupnya menderita di luar negeri padahal mereka berjasa mendatangkan devisa negara. Mereka sudah menderita, diperas dan sama sekali tidak dihargai. Ironis sekali negeri ini, apa ini negeri kaum borjuis?” Lefty melipat tangannya dengan kesal.
“Tentu saja sudah jadi hukum di zaman idol-idolan, tak kenal maka tak sayang. Yang populer pasti menang, mutu ga lagi jadi hitungan. Yang punya uang punya banyak kesempatan, di dunia politik, showbiz atau apapun, bahkan kalo kamu mau mati terus dikubur di bulan juga bisa kalo kamu punya uang,” sambung Smoky sambil menghembuskan asap rokoknya.
“Kalian ini…” Emo merengut, “Aku tidak berencana memberi dukungan atau apapun. Memang aku bilang begitu???!!!”
“Ya tidak masalah, memangnya idolamu itu peduli? Hehe.. aku yakin tidak,” kata Bent puas.
Emo tidak marah, ia malah menanggapi Bent seperti mendapat sebuah pemikiran baru. “Ya, mana mungkin peduli. Untuk itu aku juga tidak peduli. Who do you think you are .. sampe aku harus memikirkan hal ini! That’s not my problem anyway. Banyak masalah di dunia ini untuk kupikirkan. Dan jauh lebih penting!”
“Memangnya apa yang lebih penting untuk dipikirkan?” tanya Abe.
“Kulitku yang terbakar sehabis berlibur ke Hawaii. Kuku-kuku jariku juga patah gara-gara outbond ekstrim yang direkomendasikan kakakku. Menyebalkan sekali. Aku harus membersihkan diri ke spa dan konsultasi dengan dokter kulit pribadiku secepatnya. Aku juga mau mengganti model rambutku, memalukan sekali.. model rambutku yang sekarang ini sudah out of date.”
Mereka mengangguk sambil berpandangan. Welcome back, princess!
Lefty menggerutu “Dosa kaum borjuis adalah mereka hidup untuk kesenangan. Bekerja keras, menderita dan tertindas tidak ada dalam catatan harian mereka. Kalo kau sebut konser rock adalah kerja keras, para kuli pasar itu juga mau menukar pekerjaan mereka dengan profesi bintang rock. Kalo kau sebut pergi ke spa itu penting bagi wanita, maka mbok Siyem tetanggaku yang petani juga mau melakukannya setiap hari alih-alih menanam padi.” (Fk)














Last Comment